Desa Pesanggrahan adalah salah satu desa yang berada di kawasan kaki Gunung Rinjani. Potensi lokal yang ditawarkan salah satunya adalah sajian alam yang begitu asri.
PANDANG RINJANI - HOTEL & RESTAURANT
KOTARAJA, APEL RUTIN PEMDES
Kotaraja berbenah, memulai aktivitas pagi Pemdes Kotaraja melaksanakan apel rutin di halaman Aula Kantor Desa. Kotaraja. Hal ini dilakukan guna menertibkan sekaligus mengarahkan semua perangkat desa untuk melaksanakan tugas masing-masing.
Giat apel pagi ini merupakan sarana disiplin mengenai waktu serta sarana tanggung jawab pegawai serta evaluasi kegiatan yang telah berjalan
Pada kesempatan tersebut, Kepala Desa Kotaraja memberikan arahan terhadap berbagai aktivitas yang sedang dan akan dilaksanakan
Guna memaksimalkan program, Pemdes Kotaraja juga mendukung aktivitas para ibu PKK sdh kaligus memberi motivasi kepada para kader untuk memaksimalkan pelayanan kepada masyatakat setempat
Untuk informasi lainnya kunjungi kami di KotarajaMenyapa
KOTARAJA, KUNJUNGAN PENGURUS BUMDES KE SEMUA ANGGOTA
KOTARAJA - SUSUNAN ACARA EVENT FOR 17 AGUSTUS 2021
Berikut kami sampaikan Susunan Acara HUT RI ke-76 Desa Kotaraja
Pembukaan Acara
14 - 21 Agustus 2021
Produk Hasil Kerajinan
GULDEN ART - Kerajinan Kayu; Rehal, Set Kursi dll
SUHAIMI - Kerajinan Besi; Pisau, Parang, Sabit, Kapak, Cangkul, Pacul dll
REZEKIN TR - Produk olahan limbah sampah; Pot Bunga, Lampion dll
Kuliner
WARUNG BUNDA - menyediakan Makanan Siap Saji (Marang Utara)
BUNDA MARIA - Promosi Produk Lokal Kopi Waktu dan Aneka Stick (Marang Selatan)
MOBY FOOD&DRINK - menyediakan Makanan dan Minuman (Otak Desa)
ENTIGA SIBAWAYH - menyediakan Makanan dan Minuman (Marang Selatan)
PUSAKA RINJANI - menyediakan Makanan dan Minuman (Dayan Prken)
MEDITASI KOPI - Racikan Kopi Siap Saji taau Barista (Dalem Lauq)
RANA RANI STICK - Promosi Produk Lokal Stick Ubi (Marang Utara)
Aneka Lomba
14 Agustus 2021
Lomba/Permainan di Darat
PANTOK KEKEMBUNG - Disebut juga Pukul Balon yang pesertanya ditutup mata dengan kain dan di lengkapi dengan kayu pemukul, selanjutnya berjalan sejauh + 10 m menuju dimana balon digantung untuk dipecahkan. Peserta hanya diberikan 2 kali kesempatan memukul, dan bagi yang berhasil memecahkan balon akan mendapatkan hadiah.
BRERI KARUNG - Disebut juga Lari Karung. Setiap peserta 3 orang yang tubuhnya dimasukkan ke dalam karung kemudian diikat, bagian krpala menggunakan helmet. Selanjutnya peserta akan berlomba lari, dan pemenangnya adalah yang pertama kali sampai batas finish
KEKEQ KEPENG - atau disebut juga Gigit Koin, dimana sejumlah puluhan koin ditancapkan pada media (biasanya jeruk), jeruknya dibubuhi kecap manis kemudian digantung. Peserta sekitar 5 orang yang masing-masing kedua tangannya diikat, lalu secara bersamaan diberikan kesempatan untuk menggigit dan menarik koin yang tertancap pada jeruk hanya dengan menggunakan gigi. Koin-koin yang berhasil ditarik itulah yang didapatkan.
BERAWEKAN TELI - umumnya disebut Tarik Tambang adalah permainan tim yang anggota per tim biasanya 5 orang.
15 Agustus 2021
Lomba/Permainan di Air
JUPER BEBEK
PANTOK GALANG
16 Agustus 2021
Acara Lomba
FINAL LOMBA
LETEQ BUAQ
DOORPRIZE
Acara Inti
17 Agustus 2021
UPACARA BENDERA Di AIR
Upacara Unik, Petugas Upacara di air Dam/Bendungan sementara Peserta Upacara di pinggir atau di bibir Dam/Bendungan
PELEPASAN MERPATI
Pepelasan 1000 merpati oleh peserta atau pegiat burung merpati yang ada di Desa Kotaraja dan sekitarnya
PELEPASAN IKAN
Pelepasan Ikan sejumlah 2 s.d 3 kwintal di Dam Bangka
MANCING MANIA
Start pemancingan oleh para peserta yang sudah mendapatkan Kartu Anggota (KTA) Mancing Mania baik warga lokal maupun luar desa.
KORATAJA - EVENT FOR 17 AGUSTUS 2021 PROMOSI WISATA PEMANCINGAN
Perayaan HUT RI 76 tahun ini, Desa Kotaraja mengadakan Event BAZAR BUMDESA dan MANCING MANIA sekaligus mempromosikan Taman Wisa Baru yakni TAMAN WISATA KOKOQ BANGKA
Kepala Wilayah (Kawil) Harul Faridi menyampaikan bahwa kegiatan ini adalah salah satu cara untuk mempromisikan keberadaan Taman Wisata Kokoq Bangka.
"Ini adalah salah satu cara untuk kita memperkenalkan keberadaan taman wisata kita" tuturnya
Turut andil dalam acara ini KAPARINJANI/PunkPoke Community sebuah komunitas yang bergerak dibidang sosial masyarakat. Dalam kapasitasnya, KAPARINJANI/PunkPoke Community melalui Pathurrohman menyatakan siap mensukseskan Event 17 Agustus 2021 ini.
"Event ini tidak akan berhasil kalau hanya berwacana atau pun hanya setengah-setengah. Kami disini siap membantu semaksimal mungkin, kami akan mempromosikan dan mengajak komunitas lainnya yang ada di Desa Kotaraja untuk turut berpartisipasi". tuturnya
Baca disini : BAZAR BUMDESA MUDA KARYA MANDIRI
Kawil Haerul Faridi bersama sejumlah RT selaku penanggung jawab atas acara pesta rakyat (Wisata Pemancingan (berdasarkan keinginan masyarakat setempat) mengkoordinir penyiapan protokol kesehatan, keamanan, kebersihan dan jalannya kegiatan. Selanjutnya BPD setempat Jayadi Ansada mewakili pemuda menyusun acara lomba dan kegiatan lainnya. Pengurus KAPARINJANI Pathurrohman menyiapkan tim promosi, documentasi, plank kebersihan dan mengajak komunitas lainnya yang ada di Desa Kotaraja untuk berpartisipasi. Direk BUMDESA menyiapkan desain, Promosi Taman Wisata, Promosi Produk Lokal dan pengaturan lapak, documentasi kegiatan dsb.
TIDAK DIPERKENANKAN BAGI PENDAMPING DAN KETUA KELOMPOK PKH MEMEGANG KARTU MILIK KPM
Gerakan Pegang Kartu Keluarga Sejahteta (KKS) Sendiri
Isu dugaan penyalahgunaan bansos PKH dan Bansos Non Tunai masih berkembang, hal itu juga dikonfirmasi Kepala Dinas Sosial H. Ahksanul Khalik, S.Sos, HM.
Dikutip dari Ampenannews.com. Dinas Sosial Privinsi dan Kabupaten Kota akan menindak tegas bagi para SDM yang menyalahi aturan kode etik sebagai pelaksana PKH, terlebih lagi jika menguasai para KPM.
"Kartu Keluarga Sejahtera (KKS) milik KPM PKH harus dibawa sendiri dan proses pengambilan bansos juga dilakukan sendiri, tidak boleh dititipkan kepada pendamping atau koordinator PKH atau diwakili kepada siapapun, dan tidak boleh ada imbal jasa atau pungutan apa pun yang dikenakan kepada para KPM" tegasnya.
Jadi di sini sudah jelas bahwa pendamping maupun Ketua Kelompok tidak diperkenankan nenguasai atau mengambil alih dengan memegang Kartu Keluarga Sejahtera (KKS) milik Keluarga Penerima Manfaat (KPM). Kalaupun ada KPM yang belum tahu cara penarikan bantuan yang diberikan, maka harus meminta bantuan kepada para sanak keluarga terdekat karna dengan alasan apa pun pendamping atau Ketua Kelompok dilarang untuk mencairkan bantuan tersebut.
Kembali lagi dengan Akhsanul Khalik, menurutnya Kemensos mewajibkan para pendamping dan koordinator PKH untuk melakukan sosialisasi dan edukasi kepada para KPM yang mencakup tentang kebijakan perubahan, waktu penyaluran bansos dan besaran nilai yang diterima. Dengan demikian, para KPM akan mengetahui seberapa besar bantuan yang harus diterimanya.
PENGELENGSIR - KAMI ADALAH BANGSA PEMAAF
Tradisi Adat Sasak "betetulak" sebagai salah satu Kearifan Lokal yang kita miliki sudah sepatutnya kita jaga kelestariannya karna selain untuk mempererat hubungan silaturahim antar warga juga memiliki nilai luhur yang terpendam didalamnya. Terlebih lagi dari prosesi acara ini selain melibatkan Tokoh Adat juga melibatkan Tokoh Agama yang memimpin do'a bersama agar terhindar dari segala mala peteka dan bencana.
Baca di sini : Tradisi Adat Sasak "betetulak" Marang Pedalaman - Kotaraja
Sebuah kesuksesan tidak mesti berjalan mulus tanpa ada rintangan. Begitu pula dengan upaya untuk mengangkat dan mempertahankan Tradisi Adat Sasak "betetulak" ini, sejak menjelang hingga pasca Acara Puncak sempat terjadi perdebatan beberapa warga di beberapa forum sosial media tentang prosesi acara yang menurut salah seorang warga (Eyang Guru) bahwa Tradisi Adat ini adalah syirik. Sementara itu, warga masyarakat Marang merasa keberatan dengan pernyataan tersebut hingga hampir berujung pada kerusuhan.
Pengelengsir
Menyikapi akan hal ini, para Tokoh Masyarakat (Pengelengsir) Marang Pedaleman mengadakan pertemuan untuk membahas permasalahan serta mencari solusi yang terbaik untuk meredam emosi masyarakat Marang yang geram akan pelecehan Tradisi Adat tsb. Permasalahan tersebut harus segera diselesaikan karna jika berlarut-larut tentu akan menimbulkan hal-hal yang tidak diharapkan.
Diungkapkan oleh salah satu Tetua (Pengelengsir) H Lalu Suharto bahwasannya acara Adat "bebetulak" adalah tradisi yang sejak dahulu dilakkan oleh para leluhur Marang Pedaleman dengan tujuan untuk memohon kepada Allah agar terhindar dari musibah ataupun bencana. Begitu pun yang dilaksanakan saat ini adalah untuk tujuan yang sama dan juga untuk membangkitkan lagi kegiatan "betetulak" yang sekian lama hilang.
"Adapun mengenai permasalahan yang timbul saat ini adalah karna kesalahfahaman, seseorang yang mengatakan tradisi ini syirik tentu belum memahami secara benar niat dan tujuan dari "betetulak" ini. Memang saat ini masyarakat kita Marang sangat geram dengan ungkapan (syirik) tersebut, bahkan kabarnya sebagian warga Marang sempat mencari seseorang tersebut ke rumahnya untuk minta pertanggungjawaban ucapannya namun tidak bertemu saat itu, begitulah kemarahan warga kita. Namun begitu, kita di sini sebagai tetua sebenarnya tidak megharapkan kejadian seperti itu. Kita harus bijak dalam menanggapi masalah ini, karna mungkin seseorang tersebut masih belum faham dengan Tradisi Adat kita ini. Mari kita undang mereka untuk membahas permasalahan ini, dan atas ucapannya (mengatakan syirik) yang melukai hati masyarakat kita bisa maafkan. Namun perlu kita undang dia dan berikan pemahaman agar kita bisa saling menghargai dan memaafkan, karna kita adalah pemaaf!" tuturnya.
Lalu Jaya Wardana juga mengungkapkan, "Ini adalah Budaya Adat yang kita miliki yang secara turun temurun dilaksanakan oleh para Pendahulu kita. Kita memang sangat marah dan terpukul dengan ucapan salah seorang tersebut yang telah menghina dan melecehkan Tradisi Adat kita, dan memang jika kita menuruti amarah tentu akan berujung pada hal-hal yang tidak kita harapkan, namun kita kembali lagi bahwa kami sebagai orang tua, terlebih lagi bangsa kita adalah pemaaf, tentu saja kita selesaikan masalah ini dengan sebaik-baiknya agar tidak terulang kembali, kita siap memaafkan atas kekeliruan dan kesalahfahaman ini. Ada pun untuk meredam kemarahan warga saat ini, kita siap menerima Eyang Guru tersebut untuk meminta maaf kepada warga demi keamanan dan kenyamanan kita sebagai warga masyarakat Desa Kotaraja.
Secara pribadi, para Pengelengsir Marang bisa memaklumi dan memaafkan Eyang Guru, namun untuk menetralisir kemarahan warga tentu saja harus ada permintaan maaf dari Eyang Guru. Permintaan maaf yang diucapkan secara langsung dihadapan warga.
Dalam pertemuan tersebut diutus Kawil Marang Selatan Khaerul Faridi untuk secara pribadi menemui Kawil dimana Eyang Guru berdomisili guna membahas permasalahan ini agar tidak berlarut-larut dan menyelesaikannya secara kekeluargaan.
Kesimpulan :
Kesalahfahaman rentan terjadi jika kita tidak memahami sesuatu dari berbagai sisi. Jadi, mari kita biasakan diri untuk mempelajarai segala sesuatunya sebelum membuat kesimpulan. Setiap permasalahan tentu ada solusi, mari kita utamakan penyelesaian secara kekeluargaan.
Semoga bermanfaat...
KOTARAJA - MEMPERKENALKAN BUDAYA ADAT SASAK "BETETULAK" MARANG PEDALEMAN - KOTARAJA
Acara Puncak gelaran do'a bersama Tradisi Adat Sasak "betetulak" Pedukuhan Marang Pedaleman Desa Kotaraja dihadiri oleh ribuan masyarakat setempat.
Tradisi Adat "betetulak" ini adalah salah satu Kearifan Lokal yang secara turun temurun dilaksanakan oleh para Pengelengsir Marang Pedaleman hingga saat ini.
.
KOTARAJA - ACARA PUNCAK "BETETULAK" MARANG PEDALAMAN - KOTARAJA
Acara Puncak Tradisi Adat Sasak "Betetulak" Pedukuhan Marang Utara Pedalaman Desa Kotaraja dilaksanakan hari ini Minggu 21 Juni 2020. Acara Puncak ini adalah sebagai lanjutan dari kegiatan lima hari sebelumnya.
Direncanakan acara ba'da Shalat Asar dengan iringan pembawa benda pusaka "Qur'an Beleq" start dari kediaman H. Lalu Suharto melintasi jalan kampung Pedukuhan Marang, selanjutnya kembali untuk do'a bersama yang akan dipimpin oleh Bapak Tuan Guru H Muslihin. "Qur'an Beleq" adalah salah satu benda peninggalan leluhur yang sampai saat ini masih tersimpan diMarang Pedalaman Kotaraja.
Ribuan warga lokal diperkirakan akan menghadiri Acara Puncak ini seperti pada lima hari sebelumnya. Selain itu, beberapa tokoh lainnya; Camat Sikur, Pendamping Kecamatan, Pejabat Desa Kotaraja, BPD serta sejumlah tokoh lainnya turut diundang dalam acara ini.
Baca di sini : Tradisi Adata Sasak "betetulak" Marang Pedaleman Kotaraja
KOTARAJA - TRADISI ADAT SASAK "BETETULAK" PEDUKUHAN MARANG PEDALEMAN - KOTARAJA
BETETULAK adalah salah satu Tradisi Adat Sasak yang konon sudah ada sejak masuknya Islam di Lombok yang dibawa oleh Sunan Perapen pada masa berjayanya Kerajaan Selaparang.
Tradisi ini hanya dilaksanakan di beberapa tempat saja oleh warga setempat, seperti di Kerekok (dusun tua) Kelurahan Rembiga. Kerekok adalah salah satu pedukuhan tua yang ada di Kelurahan Rembiga yang menjadi tempat bermukim salah satu dari 6 orang santry Sunan Perapen. Tempat lainya adalah di Desa Pengadangan Kecamatan Peringgasela dan beberapa tempat lainnya termasuk di Pedalaman Marang Desa Kotaraja Kecamatan Sikur Lombok Timur.
Betetulak Pedalaman Marang - Kotaraja.
Kegiatan ritual "betetulak" yang dilakukan oleh warga setempat (Pedalaman Marang Utara Desa Kotaraja) biasanya dilaksanakan setiap satu Suro atau 1 Muharam (Tahun Hijriyah) tapi bisa juga dilakukan pada saat datangnya musibah atau pun bala bencana. Ritual ini sebelumnya sempat vakum beberapa tahun lamanya, namun mengingat Pandemi COVID-19 yang saat ini melanda membuat para tokoh (Pengelengsir) dan Pemuda untuk mengelar kembali tradisi "betetulak" dengan melibatkan Tokoh Agama, Tokoh Adat Desa Kotaraja.
Tradisi "betetulak" atau disebut juga "tolak bele" adalah Kearifan Lokal yang digelar dalam rangka memohon kepada Tuhan agar dijauhkan dari bala' atau bencana.
Pada prosesi "betetulak" berdasarkan makna yang terkandung di dalamnya "kembali kepada Allah" dengan melakukan do'a bersama, do'a-do'a keselamatan serta shalawat yang dipimpin oleh Tuan Guru atau Kiyai. Setelah do'a bersama dilanjutkan dengan acara makan bersama yang dalam sasak disebut "begibung".
Peran Tokoh Agama
Dalam pelaksanaan Tradisi Adat Sasak "betetulak" tidak lepas dari peran Tokoh Agama yang dalam hal ini sebagai Penasihat. Begitu halnya dengan Bapak Tuan Guru H. Muslihin dalam hal ini beliau memberi saran dan do'a-do'a yang baik (do'a memohon agar terhindar dari bencana) menyesuaikan kondisi dunia pada saat ini.
Peran Tokoh Adat dan Tokoh Masyarakat
Peran Aktif para Tokoh Adat dan Tokoh Masyarakat (Pengelengsir) dalam pergelaran acara ini adalah sebagai penasihat dan juga sebagai pembawa informasi tentang dasar, asal usul serta tata cara pelaksanaan berdasarkan apa yang mereka terima dan laksanakan secara turun temurun yang tentunya tidak menyimpang dari ajaran Agama Islam.
Peran Tokoh Pemuda
Seperti yang kita ketahui Pemuda adalah salah satu Tokoh yang sangat menentukan kualitas dari suatu wilayah. Termasuk di dalamnya menjaga kelestarian Budaya Adat Lokal, salah satunya Tradisi Adat Sasak "betetulak". Peranan Pemuda di sini tentunya menggali dan mengangkat kembali Kearifan Lokal yang kita miliki.
.





















